BISNIS
Indeks
Ekonomi

Iran Ancam Pembalasan Lebih Agresif usai Serangan AS di Pulau Larak

Peringatan soal pembalasan Iran kembali mengemuka setelah Amerika Serikat dan Teheran saling melancarkan serangan langsung untuk pertama kalinya sejak akhir Juli. Profesor Universitas Teheran, Seyed Mohammad Marandi, menyatakan Iran tengah menyiapkan respons yang lebih agresif, termasuk kemungkinan menarget fasilitas militer sekaligus aset ekonomi. Pernyataan itu disampaikan kepada RT menyusul eskalasi di kawasan Teluk yang turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, dinamika ini relevan karena guncangan harga energi global sering berimbas pada biaya logistik, transportasi, dan stabilitas pasokan BBM di pasar domestik. Meski konflik berlangsung jauh di Timur Tengah, dampak ekonominya jarang berhenti di perbatasan negara yang bertikai.

Serangan AS di Pulau Larak picu sumpah balasan Teheran

Pasukan AS menyerang dua peluncur milik Iran di Pulau Larak, Selat Hormuz, pada hari Minggu. Washington mengklaim peluncur tersebut sedang dipersiapkan untuk menembakkan roket bermuatan ranjau laut ke jalur perairan vital. Teheran membantah narasi sepihak itu dan menyatakan serangan menewaskan serta melukai sejumlah personel militer dan warga sipil.

Pihak Iran kemudian bersumpah membalas. Hanya beberapa jam berselang, rudal dan pesawat nirawak diluncurkan menuju fasilitas militer AS di Yordania. Teheran mengklaim infrastruktur serta posisi pesawat tempur AS mengalami kerusakan. Jeda permusuhan selama sekitar satu bulan pun berakhir dalam tempo singkat.

Mengapa respons ini dinilai berbeda dan lebih menyakitkan

Marandi menyebut serangan AS sebagai kesalahan perhitungan fatal. Ia menegaskan Teheran tidak akan menahan diri setelah personel militer mereka tewas. Menurutnya, respons Iran akan berbeda dari pola sebelumnya dan mencakup sasaran militer maupun ekonomi.

Ia memprediksi dampaknya dapat terasa signifikan terhadap perekonomian AS dalam beberapa minggu mendatang, bahkan berpotensi memengaruhi pemilihan umum paruh waktu. Penilaian itu dikaitkan dengan tekanan militer dan ekonomi yang berjalan bersamaan dari Washington terhadap Teheran.

  • Serangan balasan diluncurkan dalam hitungan jam setelah aksi AS di Larak
  • Sasaran mencakup fasilitas militer di Yordania, bukan sekadar isyarat simbolik
  • Ancaman perluasan ke aset ekonomi sekutu dan kepentingan AS
  • Harga minyak sudah merespons ketegangan dengan kenaikan

Tekanan ekonomi dan sinyal politik di kedua belah pihak

Pemerintahan Trump pekan lalu mengumumkan langkah yang disebut sebagai serangan ekonomi terhadap Iran. Di sisi lain, aksi saling serang terbaru langsung diikuti lonjakan harga minyak. Kombinasi tekanan sanksi, ancaman militer, dan volatilitas energi membuat ruang de-eskalasi semakin sempit.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Teheran tidak mencari perang, namun akan memberi tanggapan tegas terhadap agresi. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan bahwa setiap serangan akan dibalas dengan respons yang jauh lebih dahsyat. Bahasa resmi itu menandai posisi Iran yang ingin tampil tidak tunduk, sambil tetap membuka narasi bahwa inisiatif perang tidak berasal dari mereka.

Implikasi kawasan dan catatan untuk perekonomian regional

Selat Hormuz tetap menjadi urat nadi pasokan energi global. Setiap gangguan, atau bahkan sekadar ancaman gangguan, biasanya langsung tercermin pada harga minyak dan premi risiko pengiriman. Bagi Indonesia, termasuk pusat distribusi dan konsumsi energi di Sumatera, gejolak semacam ini perlu dipantau sebagai faktor eksternal yang dapat menekan biaya usaha.

Para pejabat Iran juga menjanjikan respons militer lebih luas jika serangan lanjutan terjadi. Artinya, siklus aksi-reaksi belum tentu berhenti pada satu putaran pembalasan ke Yordania. Investor dan pelaku usaha di kota-kota seperti Medan biasanya lebih waspada pada skenario berlarut: bukan hanya tensi politik, tetapi juga ketidakpastian harga BBM, biaya kontainer, dan sentimen pasar keuangan.

Pada akhirnya, pernyataan Marandi menegaskan satu pesan utama: Teheran ingin respons berikutnya terasa berbeda, cepat, dan berbiaya tinggi bagi lawan. Apakah ancaman itu sepenuhnya terwujud atau berhenti sebagai sinyal deteren, akan bergantung pada langkah berikutnya dari Washington dan sekutunya di kawasan. Yang sudah terlihat jelas adalah harga energi dan risiko geopolitik kembali bergerak seirama.

Sumber: Sindo News.

Tag: pembalasan Iran, Selat Hormuz, harga minyak, Yordania, ketegangan AS Iran, ekonomi energi, Pulau Larak