BISNIS
Indeks
Ekonomi

Keterbatasan Finansial Rumah Tangga Hambat Penanganan Stunting di Kabupaten Tangerang

Temuan audit kasus stunting di Kabupaten Tangerang menegaskan bahwa ekonomi keluarga stunting menjadi faktor penghambat utama. Meskipun banyak orang tua sudah memahami pentingnya asupan bergizi, keterbatasan daya beli membuat praktik tersebut sulit dijalankan setiap hari. Hasil tersebut disampaikan dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Yatsi Madani, Lastri Mei Winarni, dalam forum diseminasi di Vega Hotel Gading Serpong.

Kegiatan Bincang Publik Diseminasi Hasil Identifikasi Program GATI dan Audit Kasus Stunting digelar Kamis, 27 Agustus 2026. Audit dilakukan lewat pendampingan dan kunjungan keluarga di Kecamatan Tigaraksa. Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, pola hambatan serupa sering muncul di wilayah urban-rural yang menghadapi tekanan biaya hidup, sehingga pelajaran dari Tangerang relevan untuk penguatan program daerah tanpa menyamakan data setempat.

Kesenjangan Pengetahuan dan Kemampuan Ekonomi

Menurut Lastri, sebagian keluarga telah paham cara memberikan makanan yang baik bagi anak. Namun kondisi keuangan membuat pengetahuan itu tidak selalu terwujud di meja makan. Ia menekankan adanya jurang antara apa yang diketahui dan apa yang sanggup diterapkan dalam rutinitas rumah tangga.

Temuan audit tidak berhenti pada anak yang sudah lahir. Pada keluarga calon pengantin, teridentifikasi ekonomi yang belum stabil serta kebiasaan merokok pada suami. Pada ibu hamil, persoalan anemia dan kekurangan energi kronis masih muncul. Pasca persalinan, produksi ASI yang menurun dan pemberian ASI eksklusif yang belum optimal turut tercatat.

Tanggung Jawab Kolektif, Bukan Hanya Ibu

Lastri menegaskan penanganan stunting tidak boleh membebankan ibu sebagai satu-satunya pihak. Peran ayah, kesehatan ibu, lingkungan, kondisi keuangan, serta kemampuan keluarga mengambil keputusan saling terkait. Intervensi yang hanya menyasar anak tanpa menyentuh struktur rumah tangga dinilai kurang memadai.

Dalam pendampingan, kader mengunjungi keluarga secara bertahap. Materi mencakup pemeriksaan kehamilan, persiapan fisik dan psikologis ibu, MPASI dan gizi balita, kesehatan mental, peran ayah, perilaku hidup bersih dan sehat, serta keluarga berencana. Pendekatan bertahap itu dimaksudkan agar pesan mudah diterima dan dipraktikkan.

Angka Pengetahuan Naik, Perilaku Belum Otomatis Berubah

Evaluasi menunjukkan tingkat pengetahuan keluarga naik dari 96,3 persen sebelum edukasi menjadi 97,5 persen sesudahnya. Peningkatan itu positif, namun Lastri mengingatkan edukasi saja belum cukup. Tanpa kemampuan ekonomi, dukungan pasangan, dan lingkungan yang mendukung, perubahan perilaku sulit bertahan lama.

Ia mendorong hasil audit dijadikan dasar intervensi lanjutan yang terintegrasi lintas program dan sektor. Perguruan tinggi dapat berkontribusi lewat penelitian, pendampingan masyarakat, edukasi, serta perancangan solusi yang menyesuaikan kondisi keluarga di tiap wilayah.

Kolaborasi Dinas dan Pemerintah Daerah

Acara diselenggarakan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Tangerang. Kepala DPPKB Achmad Muchlis membuka kegiatan, sementara Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid hadir sebagai pembicara utama. Kehadiran praktisi pembangunan keluarga memperkuat pesan bahwa stunting adalah isu multidimensi.

  • Fokus audit: kunjungan dan pendampingan di Tigaraksa
  • Temuan inti: ekonomi membatasi penerapan gizi
  • Sasaran luas: calon pengantin, ibu hamil, hingga pasca salin
  • Tindak lanjut: program terintegrasi dan peran kampus

Bagi pemangku kepentingan di kota-kota besar seperti Medan, temuan ini mengingatkan pentingnya menyelaraskan edukasi gizi dengan penguatan daya beli, akses pangan terjangkau, dan keterlibatan ayah. Tanpa dukungan ekonomi dan lingkungan, angka pengetahuan yang tinggi berisiko berhenti di level wacana.

Ke depan, audit kasus stunting perlu terus dihubungkan dengan kebijakan perlindungan sosial, kesehatan primer, dan pemberdayaan keluarga. Hanya dengan pendekatan menyeluruh, hambatan finansial dapat dikurangi dan praktik gizi baik lebih mungkin bertahan di tingkat rumah tangga.

Sumber: Republika.

Tag: stunting Tangerang, ekonomi keluarga, audit kasus stunting, gizi balita, Universitas Yatsi Madani, ASI eksklusif, DPPKB Tangerang, pendampingan keluarga