BISNIS
Indeks
Nasional

Tiket Ragunan Rp10.000 Disepakati, DPRD Minta Standar Pengelolaan Naik

Kesepakatan baru soal tarif Ragunan menjadi perhatian publik setelah DPRD DKI Jakarta dan pengelola Taman Margasatwa Ragunan menyetujui penyesuaian harga masuk menjadi Rp10.000. Langkah ini tidak hanya menyentuh aspek tiket, tetapi juga membuka ruang perbaikan pengelolaan bagi kebun binatang yang masih banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah, termasuk Sumatera Utara dan Medan.

Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, menilai penyesuaian tersebut pantas dimanfaatkan untuk menaikkan mutu pelayanan, keamanan kawasan, sanitasi, serta perawatan satwa. Menurutnya, tambahan penerimaan dari pengunjung perlu dialokasikan ke kebutuhan prioritas yang selama ini menekan operasional Ragunan.

Alasan penyesuaian dan catatan keamanan kawasan

Kenneth menegaskan bahwa kenaikan tarif harus sejalan dengan standar keselamatan pengunjung. Ia menyinggung kejadian anak yang sempat terjatuh ke area kandang gajah beberapa waktu lalu sebagai catatan penting bagi pengelola.

Dengan adanya tambahan pendapatan, ia berharap penguatan pagar, pengawasan, dan prosedur keamanan kandang menjadi lebih ketat. Kebersihan lingkungan serta perawatan rutin satwa juga disebut sebagai bagian yang tidak boleh diabaikan setelah tarif baru berlaku.

Target kurangi ketergantungan pada APBD DKI

Saat ini sekitar 70 persen biaya operasional Taman Margasatwa Ragunan masih ditopang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI Jakarta. Kenneth menilai pola itu perlu dikurangi secara bertahap agar Ragunan lebih mandiri secara finansial.

Efisiensi pada pos APBD, ujarnya, nantinya dapat dialihkan ke program daerah lain yang lebih mendesak. Harapan serupa juga disuarakan terkait dukungan pada program pemuliaan satwa serta perbaikan kesejahteraan pegawai dan petugas teknis di lapangan, yang dinilai membutuhkan biaya tidak kecil.

Rasio dokter hewan dan jumlah satwa masih timpang

Data yang disampaikan Kenneth menunjukkan Ragunan merawat lebih dari 2.200 ekor satwa, sementara tenaga dokter hewan baru berjumlah delapan orang. Ketimpangan itu disebutnya sebagai alasan kuat agar penambahan tenaga medis satwa menjadi prioritas jika pendapatan tiket meningkat.

Ia juga mendorong skema pertukaran satwa antar kebun binatang, termasuk untuk gorila jantan yang belum memiliki pasangan, agar program perkembangbiakan berjalan lebih layak. Kondisi satwa yang prima, menurutnya, menjadi indikator utama keberhasilan pengelolaan setelah tarif disesuaikan.

Pengelola siap benahi fasilitas dan masterplan kawasan

Kepala Taman Margasatwa Ragunan, drh. Endah Rumiyanti, menyambut baik kesepakatan tarif. Ia memaparkan kebutuhan anggaran operasional tahunan mencapai sekitar Rp160 miliar, sedangkan pendapatan mandiri baru sekitar Rp30 miliar per tahun, sehingga subsidi pemda masih di kisaran 70 persen.

Endah memastikan fokus penggunaan dana tambahan diarahkan pada pembenahan fasilitas pendukung, perbaikan dan pemeliharaan kandang, serta penataan zonasi sesuai masterplan pengembangan. Target jangka panjangnya adalah menghadirkan ruang terbuka hijau dan kebun binatang berstandar internasional yang aman, nyaman, dan edukatif bagi pengunjung dari Jakarta maupun luar daerah.

Bagi pembaca di Medan dan sekitarnya, dinamika tarif Ragunan menjadi cermin kebijakan pengelolaan destinasi wisata satwa berskala besar. Model kemandirian finansial dan penajaman standar layanan ini relevan diamati pelaku pariwisata daerah yang turut mengelola atraksi berbasis konservasi, tanpa mengabaikan aspek edukasi dan keselamatan pengunjung.

Ke depan, publik akan menilai apakah kenaikan tiket benar-benar berbuah perbaikan nyata di lapangan, mulai dari keamanan kandang, kecukupan dokter hewan, hingga kenyamanan kawasan. Transparansi alokasi pendapatan tambahan menjadi kunci agar kepercayaan pengunjung tetap terjaga.

Sumber: Republika.

Tag: tarif Ragunan, Taman Margasatwa Ragunan, DPRD DKI, kebun binatang, APBD Jakarta, wisata satwa, kemandirian finansial