BISNIS
Indeks
Nasional

Dokumenter NAZA Pecahkan Rekor Aplaus di Venesia usai Beberkan Mesin Serangan Gaza

Pemutaran dokumenter NAZA di Festival Film Venesia menjadi sorotan publik internasional, termasuk pembaca di Medan yang mengikuti isu kemanusiaan dan sinema dunia. Karya dua sutradara Israel itu mendapat standing ovation selama 24,5 menit pada Kamis, 10 September 2026, rekor baru di ajang Italia tersebut. Fokus kata kunci dokumenter NAZA Venesia muncul alami karena film ini bersaing di kategori utama dan memicu perbincangan luas soal cara kerja militer di Gaza.

Menurut laporan Variety yang dikutip Middle East Eye, durasi tepuk tangan berdiri itu melampaui capaian film The Voice of Hind Rajab tahun sebelumnya, yang bertahan sekitar 22 menit. Film sebelumnya juga mengangkat tragedi di Gaza, khususnya kematian seorang anak Palestina pada Januari 2024. Respons penonton NAZA menandai minat tinggi terhadap narasi yang menelaah struktur keputusan, bukan sekadar cuplikan insiden tunggal.

Reaksi penonton dan momen emosional di karpet merah Venesia

Sebagian audiens mengibarkan bendera Palestina usai kredit penutup. Sutradara Yuval Abraham dan Rachel Szor terlihat terharu ketika dipeluk eksekutif produser Jonathan Glazer. Suasana di aula pemutaran mencerminkan perpaduan apresiasi artistik dan kepekaan politik yang jarang terjadi dalam durasi sepanjang itu.

NAZA menjadi satu-satunya dokumenter yang masuk kompetisi Singa Emas pada edisi festival tahun ini. Produksi digarap bersama The Guardian dan JW Films, memberi bobot jurnalistik sekaligus sinematik pada materi wawancara yang dikumpulkan secara hati-hati.

Apa yang dimaksud judul NAZA dalam operasi militer

Judul film merujuk pada akronim Ibrani yang berarti perkiraan kerusakan tambahan. Dalam praktik yang digambarkan film, istilah itu dipakai untuk menghitung kemungkinan korban sipil dalam suatu serangan. Abraham dan Szor menilai eufemisme tersebut dapat mengaburkan pengetahuan militer atas risiko kematian warga sipil sekaligus menyamarkan karakter kampanye serangan secara keseluruhan.

Sinopsis resmi menyebut NAZA merekam secara rinci sistem di balik pembunuhan massal yang dikalkulasi terhadap warga sipil Palestina di Gaza. Pendekatan ini menempatkan prosedur, rantai perintah, dan pola operasi sebagai pusat cerita, alih-alih menonjolkan satu peristiwa terpisah.

Wawancara 24 tentara dan cara syuting diam-diam

Materi utama film berupa wawancara dengan 24 tentara Israel, sebagian besar pejabat intelijen yang terlibat dalam operasi di Gaza. Pengakuan mencakup pengintaian, penilaian kemungkinan warga sipil tewas di rumah tertentu, hingga persetujuan serangan. Syuting dilakukan secara rahasia pada malam hari di atap-atap Tel Aviv agar proses produksi tetap aman.

Menulis di majalah +972 menjelang premiere, kedua sutradara menekankan bahwa tujuan mereka mengekspos sistem, bukan pelanggaran yang berdiri sendiri. Mereka menyimpulkan, dari kesaksian orang pertama, bahwa kematian massal warga sipil tidak semata akibat samping perang, melainkan hasil perencanaan, kalkulasi, dan tindakan yang diniatkan. Bagi mereka, kesaksian langsung itu membuat rangkaian peristiwa di Gaza sulit dibantah secara kosong.

  • Fokus pada perintah, kebijakan, dan pola operasi
  • Pengakuan prajurit intelijen dan personel yang menilai target
  • Produksi diam-diam di Tel Aviv sebelum premiere Venesia
  • Dukungan produksi The Guardian dan JW Films

Jejak Oscar No Other Land dan relevansi bagi audiens Indonesia

Abraham dan Szor merupakan bagian dari empat sutradara No Other Land, dokumenter yang memenangi Oscar kategori Film Dokumenter Terbaik pada 2025. Rekam jejak itu menambah perhatian industri terhadap NAZA sebagai karya lanjutan yang lebih menukik ke birokrasi kekerasan. Bagi pemirsa di Sumatera Utara dan kota Medan, film festival kelas dunia semacam ini sering menjadi rujukan diskusi komunitas sinema, kampus, dan pegiat hak asasi tanpa perlu menghadiri Venesia secara langsung.

Pemberitaan internasional soal aplaus panjang, bendera Palestina di aula, serta klaim sistematis dalam kesaksian tentara memberi kerangka bagi pembaca lokal untuk memahami mengapa dokumenter ini dibicarakan di luar lingkar kritikus film. Informasi yang beredar tetap bersumber pada laporan festival dan pernyataan sutradara, tanpa menambah peristiwa yang tidak tercatat.

Secara keseluruhan, NAZA menempatkan sorotan pada bahasa administratif, angka perkiraan korban, dan rantai persetujuan yang membuat kekejaman tampak rutin. Rekor standing ovation di Venesia menjadi penanda bahwa audiens festival merespons pendekatan tersebut dengan intens. Penonton di Indonesia dapat mengikuti jejak distribusi dan ulasan lanjutan untuk menilai sendiri kekuatan bukti yang disajikan film.

Sumber: Republika.

Tag: festival film venesia, dokumenter NAZA, konflik Gaza, Yuval Abraham, Rachel Szor, standing ovation, sinema dokumenter, berita internasional