BISNIS
Indeks
Bisnis

Anak Usaha TAP Siagakan 585 Personel Cegah Karhutla di Kalteng

Upaya pencegahan karhutla TAP kembali diperkuat melalui anak usahanya di Kalimantan Tengah. PT Gawi Bahandep Sawit Mekar (GBSM) menyiapkan ratusan personel, perangkat deteksi dini, sarana pemadaman, serta patroli terpadu agar risiko kebakaran hutan dan lahan tidak hanya ditangani saat api sudah menyebar. Langkah ini relevan bagi pembaca Sumatera, termasuk Medan, karena manajemen regional perusahaan menaungi operasi Kalteng dan Sumatera.

General Manager Region Kalteng dan Sumatera PT Triputra Agro Persada Tbk (TAP), Japatar Banjarnahor, menegaskan karhutla mengancam perusahaan, warga sekitar, dan lingkungan sekaligus. Dampaknya bisa menyentuh ekosistem, kesehatan masyarakat, kelancaran transportasi, hingga ketersediaan air. Karena itu, pengendalian tidak cukup digelar musiman.

Sinergi perusahaan, pemerintah, dan warga desa

Menurut Japatar, beban pengendalian karhutla tidak dapat dipikul satu pihak. Pemerintah, pemegang izin usaha, dan masyarakat perlu bergerak dalam satu kerangka kerja. GBSM juga menggandeng desa-desa di sekitar area operasional agar pemantauan di tingkat tapak lebih responsif.

Ia menambahkan, faktor manusia masih sering menjadi pemicu. Pembukaan lahan untuk permukiman dan pertanian, kebiasaan membakar, kelalaian, hingga aktivitas warga mencari ikan atau hasil alam di kawasan yang mengering pada musim kemarau dapat memulai titik api, termasuk yang tidak disengaja.

Tantangan cuaca, akses, dan medan berat

Selain perilaku manusia, kondisi alam memperberat penanganan. Musim kemarau panjang, angin kencang, jarak lokasi yang jauh dari jalan, serta medan sulit sering memperlambat mobilisasi regu pemadam. Tanpa kesiapan logistik dan personel yang tersebar, titik api kecil berpotensi meluas sebelum dipadamkan.

Dengan latar tersebut, perusahaan menempatkan pencegahan sebagai agenda sepanjang tahun. Struktur organisasi penanggulangan disiapkan di setiap estate, dilengkapi pelatihan dan simulasi agar regu tetap siaga meski belum masuk puncak kemarau.

585 personel satgas di estate, regu inti, dan pendukung

GBSM menyiagakan 585 personel satuan tugas pengendalian karhutla. Komposisi itu mencakup satgas tingkat estate, regu inti, dan regu pendukung yang tersebar di wilayah kerja perusahaan. Jumlah ini menjadi tulang punggung respons cepat di lapangan.

Kapasitas personel diperkaya lewat kerja sama pelatihan dengan Manggala Agni yang berjalan sejak 2016. Pengalaman kolaborasi tersebut dipakai untuk menajamkan prosedur deteksi, pemadaman, dan koordinasi lintas instansi di area perkebunan.

  • Patroli terpadu bersama TNI, Polri, dan Manggala Agni
  • Teknologi deteksi dini untuk memantau titik panas
  • Sarana pemadaman yang siap dikerahkan kapan saja
  • Pelibatan masyarakat desa di sekitar operasional

Patroli setahun penuh dan implikasi bagi rantai pasok

Selain personel, TAP menekankan patroli dan kesiapsiagaan bersama aparat serta Manggala Agni di sekitar wilayah operasional. Pendekatan ini menekan peluang api liar mengganggu produksi kelapa sawit, menjaga citra tata kelola lingkungan, dan mengurangi risiko asap yang bisa merambat lintas wilayah.

Bagi pelaku usaha dan pemasok di Sumatera Utara, termasuk kawasan Medan, praktik serupa menjadi acuan tata kelola risiko iklim dan kepatuhan lingkungan. Kesiapsiagaan dini membantu menjaga kontinuitas pasokan dan hubungan dengan mitra dagang yang menuntut standar keberlanjutan.

Secara keseluruhan, model GBSM menggabungkan personel dalam jumlah besar, pelatihan berulang, deteksi dini, serta kolaborasi desa dan instansi. Kombinasi itu menempatkan pencegahan sebagai kerja harian, bukan reaksi dadakan saat musim kering memuncak.

Sumber: Republika.

Tag: karhutla, Triputra Agro Persada, GBSM, Kalimantan Tengah, pencegahan kebakaran, sawit, Manggala Agni, kesiapsiagaan