Peran hutan Kalimantan dalam menyerap karbon dan menopang siklus air kembali menjadi sorotan publik, termasuk bagi pembaca bisnis di Medan yang semakin peduli rantai pasok berkelanjutan. Kawasan hutan hujan tropis di pulau itu kerap disebut bagian dari “paru-paru dunia”, meski fungsi serupa juga dimiliki hutan hujan di belahan bumi lain. Yang membedakan adalah kekayaan hayati serta skala tutupan yang memengaruhi iklim lokal hingga global.
Istilah populer itu perlu dibaca secara proporsional. Kalimantan bukan satu-satunya penyeimbang iklim planet, tetapi kontribusinya nyata: vegetasi dan tanah menyimpan karbon, mengatur aliran air, serta menopang sungai dan lahan basah. Ketika tutupan rusak atau terbakar, karbon yang tersimpan berisiko kembali ke atmosfer dan memperburuk tekanan lingkungan.
Heart of Borneo dan nilai hayati lintas negara
Kawasan Heart of Borneo membentang di wilayah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Di dalamnya hidup spesies yang tidak mudah dijumpai di tempat lain. Keanekaragaman itu menjadikan pulau Borneo laboratorium alam sekaligus aset strategis bagi riset, ekowisata bertanggung jawab, dan diplomasi lingkungan kawasan.
Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) menjadi ikon yang paling dikenal. Selain itu terdapat bekantan, beruang madu, kelempiau, dan enggang. WWF mencatat kawasan Arabela di Kalimantan Barat sebagai salah satu habitat penting bagi orangutan dan spesies lain. Kelangsungan satwa tersebut bergantung langsung pada utuhnya habitat, bukan sekadar luas nominal hutan di peta.
Tekanan lahan, ekstraksi, dan fragmentasi habitat
Perubahan penggunaan lahan, penebangan, pertambangan, infrastruktur, kebakaran, serta aktivitas ekonomi yang tidak berkelanjutan menekan tutupan hutan. Dampaknya tidak berhenti pada hilangnya pohon: habitat terpecah, koridor satwa terputus, dan risiko konflik manusia–satwa liar meningkat. Kebutuhan komoditas dan kegiatan ekstraktif di Borneo, menurut catatan WWF, menjadi salah satu sumber tekanan tersebut.
Pembangunan dan perlindungan tidak perlu dipertentangkan secara hitam-putih. Masyarakat di sekitar hutan membutuhkan penghidupan. Tantangan kebijakan dan bisnis adalah menempatkan daya dukung lingkungan sebagai batas, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan fungsi ekologis secara berlebihan. Pendekatan ini relevan bagi pelaku usaha di Sumatera, termasuk Medan, yang terhubung pada rantai komoditas nasional.
Dampak kerusakan bagi air, karbon, dan sosial
Hutan yang terdegradasi melemahkan kapasitas penyimpanan karbon dan mengganggu siklus air. Ekosistem menjadi lebih rentan terhadap tekanan lanjutan. Bagi satwa, kehilangan dan fragmentasi habitat menyulitkan pencarian makanan serta memisahkan populasi. Di sisi sosial, banyak warga sekitar hutan masih menggantungkan kebutuhan hidup pada sumber daya alam setempat.
Karena itu, konservasi yang mengabaikan masyarakat lokal berisiko gagal. Pengelolaan berbasis komunitas yang melibatkan warga dan pemangku kepentingan dinilai lebih menjanjikan. WWF mencatat sejumlah pendekatan pengelolaan hutan berbasis masyarakat di Kalimantan sebagai praktik yang menempatkan warga sebagai bagian solusi, bukan sekadar objek aturan.
Tanggung jawab bersama pemerintah, usaha, dan warga
Pemerintah berperan menetapkan kebijakan, mengawasi, dan menegakkan aturan lingkungan. Pelaku usaha dituntut menjalankan aktivitas dengan standar keberlanjutan, termasuk rantai pasok yang dapat dilacak. Masyarakat dapat menjaga kawasan sekitar dan memanfaatkan sumber daya secara bijak. Generasi muda memperkuat literasi lingkungan agar keputusan konsumsi dan karier selaras dengan batas alam.
- Perkuat tata ruang dan pengawasan agar alih fungsi tak melampaui daya dukung.
- Dorong model bisnis yang menekan deforestasi pada komoditas berisiko.
- Libatkan komunitas lokal dalam penjagaan dan manfaat ekonomi lestari.
- Perluas edukasi publik tentang karbon, air, dan habitat satwa endemik.
Menjaga hutan Kalimantan bukan berarti menghentikan seluruh pembangunan. Yang diperlukan adalah keseimbangan: kebijakan mempertimbangkan keanekaragaman hayati, kepentingan warga, dan generasi mendatang. Hutan yang lestari hari ini adalah investasi iklim, sosial, dan ekonomi. Bagi kalangan bisnis di Medan dan kota lain, memahami risiko deforestasi membantu menata investasi serta reputasi di era ekonomi hijau.
Pada akhirnya, sebutan “paru-paru dunia” hanyalah pintu masuk narasi. Substansinya adalah fungsi karbon, air, hayati, dan penghidupan manusia yang saling terkait. Tanpa kerja sama lintas sektor, tekanan lahan akan terus menggerus modal alam yang menopang pertumbuhan jangka panjang.
Sumber: Republika.