BISNIS
Indeks
Nasional

Ratusan Juta Anak Dunia Hadapi Tekanan Panas Berbahaya, Indonesia Ikut Terdampak Parah

Perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia membuat panas ekstrem anak menjadi ancaman nyata di banyak negara tropis, termasuk Indonesia. Studi terbaru dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) yang terbit di jurnal Science Advances memperkirakan sekitar 560 juta anak berusia 0–9 tahun di seluruh dunia kini mengalami setidaknya satu bulan tambahan—atau 30 hari lebih—tekanan panas ekstrem setiap tahun. Bagi pembaca di Medan dan wilayah Sumatera Utara yang beriklim lembap, temuan ini relevan karena Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah hari tekanan panas tertinggi yang dikaitkan dengan krisis iklim.

Temuan utama riset VUB soal ketimpangan usia dan kekayaan

Para peneliti menilai sejumlah faktor lingkungan terkait panas, antara lain suhu udara, kelembapan, radiasi matahari, dan angin. Kombinasi suhu tinggi plus kelembapan tinggi menghasilkan heat stress yang lebih berbahaya karena keringat kurang efektif mendinginkan tubuh. Kelompok paling rentan adalah bayi serta anak usia 0–9 tahun dan lansia 65 tahun ke atas.

Pada anak 0–4 tahun, risiko bisa fatal karena produksi keringat belum seefisien orang dewasa. Kebiasaan bermain di luar, asupan cairan yang sering kurang, serta ketergantungan pada pengasuh memperbesar paparan. Dampak langsung mencakup dehidrasi, sengatan panas, gangguan pernapasan, kerusakan paru, hingga gagal ginjal. Pada ibu hamil, panas berlebih dikaitkan dengan kenaikan risiko kelahiran prematur.

Dampak tidak langsung dan beban negara berkembang

Selain gangguan kesehatan akut, lonjakan suhu dapat memicu kekeringan dan menekan ketahanan pangan. Akibatnya, risiko malnutrisi pada anak naik dan memengaruhi pertumbuhan serta angka kematian. Di negara berpendapatan rendah dan menengah, tekanan panas berpadu dengan penyakit menular, gizi buruk, akses layanan kesehatan terbatas, hunian kurang layak, serta kapasitas adaptasi yang lemah. Sebaliknya, di negara kaya dampak lonjakan suhu lebih terasa pada kelompok lanjut usia.

Penulis utama riset, Rosa Pietroiusti, menegaskan bahwa ratusan juta anak sudah menderita panas berbahaya. Anak di negara berkembang menanggung paparan tidak proporsional, padahal kontribusi historis mereka terhadap emisi gas rumah kaca paling kecil. Kemiskinan, hunian tidak memadai, terbatasnya pendingin ruangan, dan sistem kesehatan yang lemah mempersempit pilihan perlindungan.

Posisi Indonesia dan wilayah tropis dalam peta risiko

Peningkatan terbesar tekanan panas lembap akibat perubahan iklim terjadi di kawasan tropis dan negara berkembang. Populasi yang relatif muda di wilayah ini membuat lebih banyak anak terdampak. Indonesia, sebagai negara berkembang tropis, termasuk yang memiliki hari tekanan panas teratribusi perubahan iklim tertinggi di dunia, sekitar 90–150 hari per tahun. Kondisi ini penting dicermati masyarakat kota-kota lembap seperti Medan, di mana kombinasi suhu dan kelembapan sering memperberat beban tubuh, terutama pada anak usia dini.

  • Saat ini: sekitar 560 juta anak usia 0–9 tahun mengalami minimal 30 hari tambahan panas ekstrem per tahun.
  • Pemanasan 1,5°C: proyeksi naik menjadi 620 juta anak atau sekitar 49 persen kelompok usia tersebut.
  • Pemanasan 2°C: mencapai 650 juta anak atau sekitar 59 persen.
  • Paparan 150 hari atau lebih: kini sekitar 40 juta anak (3 persen); pada 1,5°C sekitar 51 juta (4 persen); pada 2°C sekitar 115 juta (10 persen).

Mengapa panas lembap lebih berbahaya bagi anak

VUB menekankan bahwa humid heat lebih berbahaya dibanding panas kering karena kelembapan tinggi menghambat pendinginan lewat keringat. Tubuh anak memanas lebih cepat, efisiensi berkeringat lebih rendah, dan mereka masih bergantung pada perawatan orang dewasa. Selain dehidrasi dan heat stroke, paparan berulang dapat mengganggu proses belajar serta perkembangan kognitif.

Bagi keluarga dan pemangku kepentingan di kawasan tropis Indonesia, memahami pola risiko ini membantu memperkuat langkah adaptasi sederhana: memastikan asupan cairan anak, membatasi aktivitas di puncak panas, memperbaiki ventilasi hunian, serta memperkuat layanan kesehatan primer. Data proyeksi juga mengingatkan bahwa setiap kenaikan fraksi derajat pemanasan global memperbesar jumlah anak yang terpapar hari-hari panas berbahaya dalam setahun.

Secara keseluruhan, riset VUB menempatkan perlindungan anak di garis depan respons iklim. Angka 560 juta bukan sekadar statistik global; di negara dengan 90–150 hari tekanan panas terkait iklim seperti Indonesia, dampaknya menyentuh kehidupan sehari-hari generasi muda di kota-kota tropis, termasuk Medan dan sekitarnya. Penguatan adaptasi lokal dan mitigasi emisi tetap menjadi dua sisi kebijakan yang saling menopang.

Sumber: Republika.

Tag: panas ekstrem, krisis iklim, kesehatan anak, Indonesia tropis, perubahan iklim, Medan, studi VUB, heat stress