Ancaman El Nino Sulut yang diperkirakan berlangsung sejak akhir Mei hingga Agustus 2026 mendorong Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Utara bergerak cepat. Pemerintah daerah menyiapkan varietas tanaman tahan kekeringan agar petani tidak terjebak risiko gagal panen akibat minimnya air irigasi. Langkah tersebut menjadi isu penting bagi pembaca agribisnis di Medan yang memantau ketahanan pangan dan rantai pasok antarwilayah.
Kepala Dinas Pertanian Sulut, Wilhelmina Nova Pangemanan, menjelaskan bahwa fenomena iklim ekstrem berpotensi memicu kekeringan luas. Dampaknya merembet ke lingkungan, kesehatan masyarakat, produktivitas pertanian, hingga perekonomian daerah. Pernyataan itu disampaikan di Manado pada Kamis, sejalan dengan arahan Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus.
Arahan Gubernur dan Empat Langkah Prioritas
Gubernur Yulius Selvanus meminta jajarannya segera mengeksekusi sejumlah langkah konkret. Prioritas meliputi pemetaan wilayah rawan kekeringan, optimalisasi pengelolaan air, percepatan masa tanam, serta penyediaan tanaman dengan varietas yang tahan kondisi kering. Koordinasi lintas perangkat daerah juga diperkuat agar respons tidak terlambat.
Menurut Nova, pemetaan kerawanan menjadi fondasi. Peta yang akurat memungkinkan pemerintah menentukan titik-titik yang membutuhkan intervensi lebih dulu, mulai dari distribusi bibit hingga pengaturan pola tanam. Tanpa data spasial yang jelas, bantuan bisa meleset dari lokasi yang paling terdampak.
Bibit Sesuai Kebutuhan Petani dan Lahan
Pemerintah Sulut berkomitmen menyiapkan bibit sesuai permintaan petani dan karakteristik lahan masing-masing. Pendekatan ini menghindari penyeragaman yang tidak cocok dengan kondisi tegalan atau ladang kering di sejumlah kabupaten. Petani diharapkan mendapat opsi yang relevan, bukan sekadar alokasi seragam dari pusat.
Salah satu varietas unggulan yang disiapkan adalah padi gogo. Jenis padi ini dirancang tumbuh di lahan kering atau tegalan tanpa memerlukan genangan air terus-menerus. Pilihan tersebut dinilai strategis ketika pasokan air irigasi menipis selama periode El Nino berlangsung.
Risiko Gagal Panen dan Pengelolaan Air
Sektor pertanian disebut sebagai salah satu yang paling rentan. Minimnya air irigasi dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan meningkatkan peluang gagal panen. Karena itu, pengelolaan air harus dioptimalkan bersamaan dengan percepatan tanam memakai varietas tahan kekeringan.
Gubernur menekankan pengaturan pola tanam serta sinergi antarinstansi. Langkah itu mencakup penjadwalan yang lebih cepat di wilayah yang diprediksi mengalami kekeringan panjang, supaya siklus produksi tidak sepenuhnya terputus. Koordinasi di tingkat lapangan menjadi kunci agar himbauan tidak berhenti di meja birokrasi.
- Pemetaan wilayah rawan kekeringan
- Optimalisasi pengelolaan air irigasi dan sumber daya air
- Percepatan tanam dengan varietas tahan kekeringan
- Pengaturan pola tanam dan penguatan koordinasi
Catatan bagi Pelaku Usaha di Medan
Bagi pelaku usaha pertanian dan distribusi pangan di Medan serta Sumatera Utara, dinamika di Sulawesi Utara menjadi cerminan risiko iklim regional. Gangguan produksi di satu provinsi dapat memengaruhi ketersediaan komoditas dan harga di pasar antarpulau. Pemantauan kebijakan antisipasi di Sulut membantu dunia usaha menilai skenario pasokan ke depan.
Meski fokus utama berada di Manado dan kabupaten di Sulawesi Utara, pola kerja yang sama—pemetaan risiko, bibit adaptif, dan manajemen air—relevan sebagai pembelajaran bagi daerah lain yang menghadapi musim kering berkepanjangan. Transparansi data prediksi iklim dan kesiapan bibit menjadi fondasi agar petani tidak menanggung beban sendirian.
Dengan prediksi El Nino ekstrem hingga Agustus 2026, kecepatan eksekusi di lapangan akan menentukan seberapa besar kerugian yang bisa ditekan. Dinas Pertanian Sulut menempatkan padi gogo dan varietas tahan kering lain sebagai instrumen praktis, sementara pemetaan wilayah memastikan bantuan tepat sasaran. Kolaborasi petani, dinas, dan pemerintah provinsi tetap menjadi penentu keberhasilan antisipasi tersebut.
Sumber: Republika.