Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok kian dipandang sebagai perebutan pengaruh jangka panjang, bukan sekadar sengketa dagang. Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia Mahfuz Sidik menyebut dinamika itu berpeluang menjelma menjadi perang dingin AS-China dalam kurun 5 hingga 15 tahun, dengan efek berantai ke tatanan internasional. Bagi kalangan bisnis di Medan yang terhubung rantai pasok Asia-Pasifik, isyarat geopolitik semacam ini layak dicermati sebagai variabel risiko jangka menengah.
Pernyataan itu disampaikan dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik bertajuk “Perang Supremasi AS vs Tiongkok: Skenario Konflik Geopolitik Global” pada Jumat malam, 4 September 2026. Keterangan resmi terkait penilaian tersebut dirilis Minggu, 6 September 2026.
Dari persaingan dagang ke supremasi geopolitik
Menurut Mahfuz, ketegangan antara Washington dan Beijing saat ini melampaui kompetisi ekonomi biasa. Yang diperebutkan adalah posisi puncak dalam arsitektur kekuasaan global, termasuk pengaruh di lembaga internasional, teknologi strategis, dan aliansi regional. Ia menekankan bahwa pola tersebut bersifat sistemik dan berlangsung dalam horizon waktu yang panjang.
Dalam kerangka itu, “perang dingin” dipahami sebagai fase persaingan geopolitik, ketegangan, serta konfrontasi tanpa bentrokan militer langsung. Kedua kekuatan besar diyakini akan terus menguji batas pengaruh satu sama lain melalui instrumen diplomasi, ekonomi, dan aliansi, alih-alih perang terbuka.
Rentang waktu 5–15 tahun dan efek domino
Mahfuz memproyeksikan skenario perang dingin baru AS versus Tiongkok dapat menguat dalam lima sampai lima belas tahun ke depan. Proyeksi ini bukan ramalan peristiwa tunggal, melainkan pembacaan tren rivalitas yang sudah berjalan dan berpotensi memadat menjadi blok-blok pengaruh yang lebih tegas.
Efek domino global dinilai menyentuh sektor-sektor vital: perdagangan lintas batas, investasi, rantai pasok industri, hingga stabilitas kawasan. Negara-negara mitra, termasuk Indonesia, berpotensi menghadapi tekanan untuk menjaga ruang manuver di tengah polarisasi yang lebih tajam, tanpa harus memilih kutub secara kaku.
Implikasi bagi stabilitas dan pelaku usaha Indonesia
Meskipun forum tersebut berfokus pada peta kekuatan global, relevansinya terasa di tingkat domestik. Ketegangan dua ekonomi terbesar dunia historisnya berimbas pada harga komoditas, arus modal, dan kepastian kontrak ekspor-impor. Kota pelabuhan dan pusat niaga seperti Medan, yang menopang distribusi barang ke Sumatera bagian utara, secara alami sensitif terhadap guncangan logistik dan sentimen investor asing.
Pelaku usaha disarankan memperkuat diversifikasi mitra dagang, memantau kebijakan tarif serta pembatasan teknologi, dan menjaga cadangan likuiditas. Pemerintah dan asosiasi bisnis juga dinilai perlu menyiapkan skenario adaptasi agar peluang kerja sama dengan kedua pihak tetap terbuka tanpa mengorbankan kepentingan nasional.
- Memantau eskalasi kebijakan perdagangan dan teknologi AS–China
- Menjaga fleksibilitas rantai pasok dan mitra alternatif
- Mengutamakan stabilitas makro serta kepastian regulasi dalam negeri
Membaca ulang tatanan dunia multipolar
Kajian yang diisi Mahfuz Sidik menempatkan rivalitas AS–Tiongkok sebagai ujian bagi tatanan internasional yang semakin multipolar. Bukan hanya dua ibukota yang bertarung; kawasan Indo-Pasifik, forum multilateral, dan ekonomi emerging markets ikut menentukan seberapa dalam polarisasi akan merembes ke kebijakan sehari-hari.
Dengan horizon 5–15 tahun, ruang bagi diplomasi ekonomi Indonesia masih terbuka lebar. Konsistensi politik luar negeri bebas aktif, penguatan daya saing industri dalam negeri, serta kejelasan arah investasi menjadi penopang agar prediksi perang dingin baru tidak otomatis menjadi beban bagi pertumbuhan daerah, termasuk Sumatera Utara.
Pada akhirnya, peringatan Sekjen Gelora itu menggarisbawahi satu hal: persaingan hegemoni global kini menyatu dengan perhitungan bisnis dan keamanan. Memahami skenario tanpa panik, sambil menyiapkan opsi kebijakan dan strategi korporasi yang tangguh, merupakan langkah bijak bagi pembaca dan pemangku kepentingan di Medan maupun nasional.
Sumber: Sindo News.